Belajar Dari Kasus Ahok, Maka Belajar Sharing Berita

Berita Ahok
Berita Ahok

Tragedi Ahok seakan-akan telah mengakar tumbuh didalam hati orang-orang Indonesia. Terutama untuk umat muslim, yang betul-betul terasa tersinggung dengan pernyataan yang pernah didapatkan dari ahok. Entahlah, apakah itu berkonotasi mengejek atau tidak, biarlah beberapa orang yang terasa dianya pandai untuk menafsrikan arti kalimat-kalimat yang di sangka menistakan kitab suci satu diantara agama sebagian besar di indonesia itu. Biarlah mereka berdebat didalam ruangan berAC, biarlah mereka perang mulut dengan bebas, sampai pada akhirnya merekalah yang nanti bakal memastikan nasib dari tragedi yang nyaris saja mengambil keputusan tali rantai di bawah kaki sang garuda.

Awal mulanya Ahok ditetapkan sebagai tersangka. Hingar bingar berlangsung dimana-mana. Beberapa ribu teriakan menggema sampai ke ujung langit, ada yang sujud sukur karna karena sangat sukanya mendengar berita itu, ada yang bermuka bebrapa umum saja tanpa ada expresi, serta bahkan juga yang mempunyai emosi yang bertentangan dengan itu yaitu perasaan kecewa serta kesal karna terasa itu cuma peristiwa yang diselipi gosip politik cuma untuk melengserkan orang yang dibenci.

Entahlah, saya rasa anda telah pandai, anda pastinya tambah lebih pandai untuk dapat menafsirkannya. Karna sekarang ini, tragedi ahok sudah mengakibatkan semua orang-orang Indonesia mendadak jadi pandai bakal pengetahuan agama serta politik. Hingga menyulut satu alasan saja seperti menyebar bensin dalam tumpukan jerami kering. Janganlah lawan mereka, karna tiap-tiap orang telah mulai pandai merangkai kata untuk memenangkan perang mulut itu.

Roda dunia nyatanya berputar. Ada yang rasakan serta ada yg tidak terasa apa-apa sekalipun. Saat ini semuanya telah berbalik, ahok bebas dari tahanan, sedang yang dikira sebagai biang kerok dijebolaskan ke sel tahanan. Semuanya bergejolak. Hingar-bingar issue demo susulan kembali menggema, bahkan juga ada issue demo Jumat Sableng, karna demonstrasinya bertepatan dengan tanggal sableng, yaitu 212

Demo tandinganpun satu persatu bergejolak. Bila tidak menginginkan kalah, jadi bikin demo tandingan yaitu pemecahannya. Hingga apa yang berlangsung? Tv kita disajikan dengan panorama demonstrasi yang berlangsung dimana-mana. Semasing stasiun tv bergrilya untuk menayangkan berita itu, pastinya disiarkan sesuai sama kebutuhan mereka. Bila untungkan, tayangkan seutuhnya, tetapi bila ada yang menjurus merugikan, tinggal potong saja videonya, atau bahkan juga bila dapat di ubah saja. Supaya dapat tetaplah menang.

Disela-sela peristiwa itu, beberapa mass media repot dibelakang serta diatas meja semasing untuk bikin berita yang nanti bakal jadi santapan pagi, siang, serta malam beberapa customer berita. Situs berita yang awal mulanya cuma 10, mendadak beralih jadi beberapa ratus situs berita. Namanyapun aneh-aneh, ada yang bersitus dengan jati diri satu diantara tokoh tujuan, agama, politik, serta bebrapa website hantu yang lain. Yang di mana saya rasa itu semuanya bermuatan politik atau cuma mempunyai tujuan untuk memperindah citra dari tokoh yang tengah mereka dukung. Bila situsnya dimililki oleh organisasi keagamaan, jadi telah pasti ia cuma bakal memberitakan berita yang cuma untungkan agamanya saja. Baginya, agamanyalah yang paling benar, sedang agama lain yaitu agama yang salah, bahkan juga kafir.

Mengenai bila situsnya yaitu pendukung ini, jadi telah barang pasti kabarnya cuma bakal berisi kebaikan-kebaikan yang dikerjakan oleh si ini, sedang si itu yaitu orang yang salah, serta tidak layak sekalipun untuk mencapai surga. Berita bergentayangan di tanah pertiwi ini, tetapi sayang tidak dapat mencerdaskan orang-orangnya, malah jadi membodohi serta menelanjangi otak orang-orangnya habis-habisan. Semakin ke sini, negeri ini telah ada di ujung tanduk, di negeri beberapa bedebah.

Lalu bagaimana dengan sikap independsi? Janganlah di tanyakan lagi, telah pasti tidak ada yang netral dalam menyampaikan tulisan atau berita. Berita di ciptakan sesuai sama kebutuhan sang yang memiliki. Berita di ciptakan sesuai sama apa yang diinginkan pelanggan. Hingga berita kenyataanpun dapat beralih jadi fiktif dalam hitungan per second. Media memanglah makin aneh, sewaktu orang-orang telah mulai makin suka untuk membaca, sewaktu orang-orang telah mulai sadar bakal lingkungan bangsanya, media jadi mulai menebarkan wabah penyakit yang bikin hati serta otak orang-orang jadi hancur serta tercemar.

Untuk orang-orang yang kurang cermat, atau gampang terprovokasi, pastinya mereka akan tidak hingga memikirkan 2 x untuk terpancing emosi serta lalu menebarkan berita itu pada orang-orang pemula lainya. Seperti menyebar bensin di atas kertas, yang memperoleh berita hoaxpun jadi tersulut api kemarahan. Jadi janganlah heran bila kebakaran emosi berlangsung dimana-mana dipelosok negeri ini. Tidak cuma rimba yang bisa terbakar di bumi pertiwi yang tengah hamil tua ini, tetapi jiwa orang-orangnyapun dapat lebih berkobar dari nyala apinya.

Lalu apa yang perlu kita kerjakan? Mari kita melindungi perdamaian bangsa ini. Bacalah berita apa pun yang anda ingingkan. Tetapi bertahati-hatilah dalam pilih berita. Perhatikanlah sumbernya. Membaca itu semestinya menaikkan wawasan kita, bukanlah jadi makin mendangkalkan pengetahuan yang sekarang ini kita punyai. Jadilah pembaca serta pendegar yang gawat. Tidak asal baca serta sebar. Janganlah menyulut bensin dalam jerami. Karna bisa menyebabkan kebakaran. Itu semuapun untuk kebaikan sang individu maupun orang-orang. Karna dalam UU IT sesungguhnya orang yang dengan tidak bertanggungjawab menebarkan berita yg tidak benar, bahkan juga menyebabkan hal yang berbau provokasi, dapat terserang hukuman denda serta kurang penjara.

Jadi mulai sekarang ini, bukanlah maksud saya untuk mengajari anda. Tetapi berikut waktunya kita sadar bakal perdamaian bangsa ini. Tidak segalanya yang dikabarkan itu benar. Kita telah jadi orang dewasa, saya rasa kita telah dapat memastikan mana arah timur serta arah barat. Janganlah dibiarkan orang yang tidak bertanggungjawab mengemudikan alur fikiran kita. Jadi jadilah supir untuk kendaraan kita semasing.

Mari berlaku bijak dalam membaca serta menebarkan berita. Kita memanglah mempunyai hak asasi semasing, tetapi bukanlah bermakna kita bisa berlaku semena-mena yang lalu pada akhirnya merenggut hak asasi orang lain. Berikut waktunya kita mengubah muka bangsa kita. Janganlah dibiarkan negara lain bertepuk tangan melihat drama kehidupan bangsa kita. Karna keadaan bangsa kita sekarang ini, bukanlah drama komedi yang nikmat di lihat serta ditertawakan dengan tebahak-bahak.

Leave a Comment