Senandung Rindu di Masjid Kabupaten Pemalang Jawa Tengah

Senandung Rindu di Masjid Kabupaten Pemalang Jawa Tengah

Senandung Rindu di Masjid Kabupaten Pemalang Jawa Tengah

Di Sore yang masih cukup cerah, belum ada tanda-tanda hujan akan turun waktu itu kita masih berdua menyusuri ladang di belakang rumah. Bermain layang – laying bersama menikmatinya dengan kawan kawan ditengah sawah, sampai ada yang melarangnya karena tanaman kedelai mereka ludes kami injak-ijak gara garanya mengejar layangan yang terputus. Tapi kemarahan itu tidak kami hiraukan karena kami tidak ingin layangan kita hilang begitu saja. Karena itulah kami harus terus berlari, dan ternyata tersangkut di kubah Masjid di seberang jalan raya. Terpaksa kami harus memangjat Masjid hingga ke atas karena sayang toh itu mahal sekali kita beli sampai harus menyisakan uang jajan kita berhari – hari hanya untuk membeli layangan saja. Telah ku coba meminta agar menjadi ikatan kita untuk selamanya, bagaimanapun juga itu harus kita miliki dengan segala upaya yang kami miliki. Meski banyak yang menganggap kita tergila gila tapi tetap tidak akam kita hiraukan. Tidak akan mungkin itu bisa kita raih jika tidak ada usaha yang maksimal untuk mewujudkannya.,

Semua cerita di atas adalah kisah senandung saya bersama teman saya Aqil Sirojd itu adalah cerita sekitar 12 tahun yang lalu. Setelah sekian lama apa yang kita rasa semuanya sudah terjadi belasan tahun yang lalu, dan setelah semua yang kita lalu di masa kecil itu, kita haru terpisahkan karena aku masih berada di Kabupaten Pemalang Jawa Tengah sedangkan si Aqil harus ikut orangtuanya pindah ke Bandung Jawa Barat. Namun, semuanya masih teringat dalam ingatan ku dan aku belum sempat bertemu denganya lagi dan pada hari itu tanpa senagaja saat aku duduk duduk di depan Masjid sambil membuka akun media sosialku aku menemukan aku teringat akan dia sahabat kecilku dan aku mencoba mencarinya melalui program pencarian dan aku tulis namanya ternyata dia menggunakan nama aslinya, betapa bahagianya hatiku bisa melihat foto-fot kawan lamaku. Aku mencoba chating dia karena melihat nofikasinya masih aktif, ternyata lasung dibalang, aku yang masih duduk di depan Masjid langsung mencari tempat yang lebih nyaman agar tetap bisa chatingan tanpa ada gangguan.

Aqil masih mengenang juga kisah kita yang mengejar layangan sampai berkali – kali kena marah oleh orang., dia kembali mengingatkan ada sebuah cerita yang lama sekali terpendam jika dulu waktu kecil aku sempat menceritakan pernah suka dengan wanita tetangga des asana, sampai mengirimkan surat ke orang tuanya. Lucu memang mengingat masa kecil itu dan kini kita sudah saling dewasa belum ada waktu kita untuk bertemu kembali., tapi aku meminta dia untuk menyempatkan pulang ke Kabupaten Pemalang suatu saat nanti.

Leave a Comment