Beberapa Fakta Tentang Budaya Mayat Berjalan di Toraja

Toraja memang terkenal dengan budaya pemakaman mayat yang bisa terbilang unik. Dalam prosesi pemakaman akan diadakan dengan sebuah acara yang sangat mewah dan besar. Biaya yang dikeluarkanpun tidak sedikit. Sebelum diarak pun jenazah akan disemayamkan dalam rumah adat yang bernama Tongkonan. Jenazah dapat disemayamkan dengan kurun waktu yang lama. Nah, dengan budaya yang sangat memegang teguh warisan leluhur ini menjadikan Toraja sebagai tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Namun ada yang sangat unik dari upacara pemakaman, yaitu budaya mayat berjalan di Toraja atau Ma’nene. Dari budaya yang unik ini para wisatawan dapat secara langsung melihat mayat yang sudah berusia lebih dari puluhan tahun berjalan di area perkampungan warga.
Dari budaya mayat berjalan di Toraja tersebut ternyata ada beberapa fakta yang bisa kita jadikan pemahaman sebelum berkunjung ke tanah yang memiliki banyak budaya tersebut. Berikut ini adalah beberapa fakta tentang mayat berjalan di Toraja.
• Sejarah Mayat Berjalan – pada jaman dahulu ada seorang pemburu yang masuk hutan untuk mencari hewan buruan. Saat berada didalam hutan pemburu tersebut menemukan mayat yang sudah menjadi tulang belulang. Kemudian dengan niatan hati yang baik, pemburu tersebut merawat mayat dan memasukan kedalam goa di dalam tebing. Setelah kejadian itu pemburu bak mendapat keberuntungan. Setiap berburu pasti akan mendapat hewan buruan yang banyak dan saat keluar rumah ladang yang digarapnya akan lebih cepat untuk dipanen. Dari situ si pemburu selalu membawa mayat yang dirawatnya tadi pergi berburu. Mulai dari situ masyarakat sering melakukan budaya tersebut.
• Gua Untuk Mengawetkan Mayat – jika kalian berkunjung ke Toraja maka kalian akan menemukan mayat yang berjalan dengan keadaan yang masih utuh. Padahal mayat yang dimasukan dalam gua tidak diberi balsem untuk mengawetkan. Ada yang bilang bahwa dalam gua terdapat zat untuk membuat mayat tersebut awet dan kering.
• Pasangan dalam budaya Ma’nene – jika seorang pasangan suami istri salah satunya meninggal maka yang ditinggal tidak boleh untuk menikah lagi sebelum mengadakan upacara Ma’nene. Setelah upacara itu berlangsung maka pasangan yang ditinggal akan dianggap bujangan dan boleh untuk menikah kembali.
Demikian tadi beberapa fakta tentang budaya mayat berjalan di Toraja. Jika kalian ingin melihat upacara ini kalian bisa datang saat akhir masa panen ata sekitar bulan Agustus. Saat itu kalian akan banyak melihat mayat yang diarak keliling perkampungan. Maka jika kalian ingin mendapatkan foto yang menarik dalam budaya Toraja kalian bisa datang dan menyaksikan sendiri. nah, hal ini akan menjadikan pengalaman yang unik bagi kalian para pelancong yang suka denga budaya unik warisan leluhur Indonesia.

Bagi anda yang ingin berwisata melihat keunikan budaya di tana toraja bisa hubungi penyedia paket tour ke toraja untuk kesini.

Leave a Comment